Toleransi dan Kerukunan Umat Beragama di Era Khilafah

By | 25 Desember 2018

Oleh: Hafidz Abdurrahman

Tidak ada toleransi yang begitu luar biasa, keculi di dalam negara Khilafah yang menerapkan sistem Islam. Toleransi [tasamuh] sejak awal dibangun oleh Nabi, para sahabat, tabiin, atba’ tabiin, para imam mujtahid, hingga Khilafah runtuh. Perbedaan, sejak zaman Nabi nyaris tak terelakkan meski Nabi saw. masih hidup.

Sebagai contoh, perbedaan sahabat dalam memahami hadits Nabi, “Janganlah kalian shalat Ashar, kecuali di Bani Quraidhah.” Yang kemudian dipahami, ada yang langsung berangkat ke Bani Quraidhah, sehingga sesampai di Bani Quraidhah baru shalat Ashar, meski waktunya sudah lewat. Ada yang memahami, shalat Ashar dulu, baru berangkat ke Bani Quraidhah. Uniknya, dua-duanya dibenarkan oleh Nabi saw. Ini contoh tasamuh.

Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali bin Abi Thalib adalah para sahabat Nabi, yang juga mujtahid. Mereka mempunyai ijtihad sendiri-sendiri. Masing-masing juga mempunyai perbedaan pendapat dalam masalah fikih. Tetapi, saling menghargai dan menghormati. Begitu juga generasi tabiin, murid para sahabat, dan generasi atba’ tabiin berikutnya, sampai generasi para mujtahid. Tetapi, mereka saling menghormati dan menghargai.

Ketika, mereka menjadi Khalifah, mereka tidak mau mengadopsi mazhab tertentu, karena mereka tahu, bahwa Khilafah bukan negara mazhab. Dengan begitu, Khilafah memberikan ruang yang sama kepada semua mazhab untuk tumbuh, hidup dan berkembang. Ketika, Imam Malik, diminta oleh Abu Ja’far al-Manshur untuk menjadikan kitabnya, al-Muwatha’, sebagai UU negara, maka Imam Malik pun menolak.

Bahkan, ketika beberapa Khalifah melakukan kesalahan, dengan mengadopsi mazhab tertentu, seperti di zaman ‘Abbasiyah, ketika Muktazilah diadopsi sebagai mazhab negara, atau di zaman ‘Utsmaniyyah, ketika mazhab Hanafi diadopsi sebagai mazhab negara, Khilafah tetap memberikan ruang kepada mazhab lain untuk hidup dan berkembang. Karena itu, mazhab-mazhab lain pun tetap eksis hingga hari ini.

Ini terkait dengan toleransi di antara sesama Muslim. Adapun toleransi dan kerukunan antar umat beragama, Khilafah pun mencatat rekor yang belum pernah dicapai oleh peradaban manapun. Di Spanyol, lebih dari 800 tahun, pemeluk Islam, Kristen dan Yahudi hidup berdampingan dengan damai dan tenang selama era Khilafah Bani Umayyah. Begitu juga, di Mesir, sejak zaman Khulafa’ Rasyidin, Bani Umayyah, Bani ‘Abbasiyah dan ‘Utsmaniyyah, pemeluk Kristen dan Islam hidup berdampingan dengan aman dan damai selama ratusan tahun.

Di India, setelah wilayah ini ditaklukkan oleh Muhammad Qasim, di zaman Bani Umayyah, hingga Bani ‘Abbasiyyah dan ‘Utsmaniyyah, pemeluk Islam dan Hindu juga hidup rukun dan damai selama ratusan tahun. Para pemeluk Hindu itu pun tetap diberikan kebebasan untuk memeluk agama mereka dan beribadah sesuai dengan keyakinan mereka. Buktinya, hingga hari ini mereka masih tetap eksis.

Andai saja, Khilafah Islam tidak toleran, baik terhadap umat lain, maupun terhadap sesama Muslim yang berbeda mazhab, pasti mereka tidak akan tersisa lagi. Karena pasti sudah dimusnahkan. Sebagaimana yang dilakukan oleh penganut Budha di Myanmar terhadap Muslim Rohingnya.

Jadi, kalau ada yang mengatakan, bahwa Khilafah itu intoleran, bahkan akan membumihanguskan penganut agama lain, jelas merupakan proganda jahat untuk menyerang Islam. Boleh jadi karena kebodohannya, atau karena hatinya jahat. Wallahu a’lam.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *