Seputar Terlibat dalam Hari Raya Kaum Kafir

By | 25 Desember 2018

Oleh Ust. Rokhmat S. Labib

Syara’ telah menentukan untuk kaum Muslim hari raya yang khusus untuk mereka, yaitu Idul Fitri dan Idul Adhha. An-Nasai telah meriwayatkan dari Anas ra. , ia berkata: Nabi saw tiba di Madinah dan orang-orang Madinah memiliki dua hari yang didalamya mereka bermain-main. Maka Nabi saw bersabda:
«أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى»
“Allah SWT telah mengganti keduanya untuk kalian dengan yang lebih baik dari keduanya: Idul Fitri dan Idul Adhha”.

Ini adalah nash dari Rasul saw bahwa untuk kaum Muslim hanya ada dua hari raya saja yaitu Idul Fitri dan Idul Adhha. Dan dengan kedua hari raya ini, hari-hari raya jahiliyah dibatalkan. Kedua hari raya ini terkait erat dengan akidah kaum Muslim berupa tauhid kepada Allah dalam ibadah, ketaatan, dan keterikatan kepada perintah-perintah Allah SWT.
Adapun hari-hari raya orang Nashrani umumnya dan orang-orang Barat khususnya maka itu merupakan perayaan yang terpancar dari akidah mereka yang sesat dan menyimpang mengenai Isa bin Maryam as dan apa yang dicampurkan dengan tradisi-tradisi Romawi paganisme kuno. Dan itu tidak seorang Muslim pun yang meragukan kesesatannya dan kekufuran pemeluknya. Allah SWT berfirman:
﴿لَقَدْ كَفَرَ الّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ﴾
“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”(TQS al-Maidah [5]: 73).

Allah SWT juga berfirman:
﴿لَقَدْ كَفَرَ الّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ﴾
“Sesungguhnyatelahkafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masihputera Maryam”(TQS al-Maidah [5]: 72).

Orang-orang Nashrani pada hari raya mereka itu, mereka menghias rumah, toko, kantor, sekolah dan jalan-jalan mereka. Mereka juga menyelenggarakan perayaan umum maupun khusus di gereja-gereja dan lainnya. Mereka saling bertukar hadiah, menyanyikan lagu-lagu keagamaan untuk merayakan hari raya itu.

Syara’ telah melarang kaum Muslim dengan larangan yang tegas dari mengikuti (taqlid) kepada kaum kafir baik dari kalangan Nashrani, Yahudi maupun selain mereka, berupa perkara-perkara agama dan syiar-syiar mereka. Imam al-Bukhari telah meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudzri bahwa Nabi saw bersabda:
«لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْراً بِشِبْرٍ وَذِرَاعاً بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ. قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، اليَهُودَ والنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟ »
“Sungguh kalian akan mengikuti sunah orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai-sampai seandainya mereka berjalan ke lubang biawak niscaya kalian mengikutinya”. Kami katakan: “ya Rasulullah, orang Yahudi dan Nashrani?” Beliau bersabda: “siapa lagi?”.

Jadi Nabi saw melarang mengikuti orang Yahudi dan Nashrani. Beliau mencela orang yang mengikuti mereka dan menempuh jalan mereka dalam kehidupan serta mengikuti (bertaqlid kepada) mereka dalam hal adat dan tradisi serta syiar mereka. Dan itu merupakan dalil yang gamblang atas keharaman bagi kaum Muslimbertaqlid kepada mereka. Syara’ telah menegaskan larangan ini sampai pada tingkat syara’ mensifati orang yang menyerupai kaum kafir bahwa dia termasuk bagian dari mereka. Hal itu sesuai sabda Nabi saw:
«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم» رواه أحمد وأبو داود
“Siapa saja yang menyerupai satu kaum maka dia termasuk bagin dari mereka” (HR Ahmad da Abu Dawud).

Atas dasar itu maka tidak boleh bagi kaum Muslim merayakan hari raya kaum kafir seperti hari raya Natal dan TahunBaru yang khusus dengan orang Nashrani.

Juga tidak boleh berpartisipasi dengan mereka dalam bentuk apapun, baik perayaan itu bersifat publik atau privat, dan baik di gereja, di sekolah atau tempat lainnya.

Dan ini mencakup semua manifestasi dan syiar yang berkaitan dengan hari raya ini yang di dalamnya seorang Muslim menampakkan perayaannya di situ seperti tukar menukar hadiah, ucapan selamat, menghiasi rumah atau toko.

Hal ini juga sudh banyak diterangkan para ulama. Qatadah ketika menjelaskan firman ALlah Swt:
{وَالَّذين لاَ يشْهدُونَ الزُّور} قَالَ: لاَ يساعدون أهل الْبَاطِل على باطلهم وَلاَ يمالؤنهم فِيهِ
“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan zur (kepalsuan)”, berkata: “Mereka tidak membantu pengikut kebatilan atas kebatilan mereka dan tidak menolong mereka dalam hal kebatilan tersebut.” (Al-Suyuthi, al-Durr al-Mantsur, juz 6 hlm 282-283).

Imam Khatib al-Syarbini berkata:
وَيُعَزَّرُ مَنْ وَافَقَ الْكُفَّارَ فِي أَعْيَادِهِمْ ، وَمَنْ يُمْسِكُ الْحَيَّةَ وَيَدْخُلُ النَّارَ ، وَمَنْ قَالَ لِذِمِّيٍّ يَا حَاجُّ ، وَمَنْ هَنَّأَهُ بِعِيدِهِ
“Dihukum ta’zir orang yang menyamai kaum kafir dalam hari-hari raya mereka, dan orang yang mengurung ular dan masuk ke dalam api, dan orang yang berkata kepada seorang kafir dzimmi ‘Ya Hajj’, dan orang yang mengucapkan selamat kepadanya (kafir dzimmi) di hari raya (orang kafir)…” (Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj, XVII/136).

Ibnu Hajar al-Haitami berkata:
ومن أقبح البدع موافقة المسلمين النصارى في أعيادهم بالتشبه بأكلهم والهدية لهم وقبول هديتهم فيه وأكثر الناس اعتناء بذلك المصريون وقد قال صلى الله عليه وسلم { من تشبه بقوم فهو منهم } بل قال ابن الحاج لا يحل لمسلم أن يبيع نصرانيا شيئا من مصلحة عيده لا لحما ولا أدما ولا ثوبا ولا يعارون شيئا ولو دابة إذ هو معاونة لهم على كفرهم وعلى ولاة الأمر منع المسلمين من ذلك
Di antara bid’ah yang paling buruk adalah tindakan kaum muslimin mengikuti kaum Nasrani di hari raya mereka, dengan menyerupai mereka dalam makanan mereka, memberi hadiah kepada mereka, dan menerima hadiah dari mereka di hari raya itu. Dan orang yang paling banyak memberi perhatian pada hal ini adalah orang-orang Mesir, padahal Nabi Saw telah bersabda: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari mereka”. Bahkan Ibnul Hajar mengatakan: “Tidak halal bagi seorang muslim menjual kepada seorang Nasrani apapun yang termasuk kebutuhan hari rayanya, baik daging, atau lauk, ataupun baju. Dan mereka tidak boleh dipinjami apapun (untuk kebutuhan itu), walaupun hanya hewan tunggangan, karena itu adalah tindakan membantu mereka dalam kekufurannya, dan wajib bagi para penguasa untuk melarang kaum muslimin dari tindakan tersebut”.(al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah, IX/357)

Imam Ibnu Qoyyim al-Jauzi berkata:
وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه. وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ولا يدري قبح ما فعل فمن هنأ عبدا بمعصية أو بدعة أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه
Adapun memberi ucapan selamat (tahniah) pada syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir adalah haram berdasarkan kesepakatan. Misalnya memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari raya ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan “selamat pada hari raya ini” dan yang semacamnya. Maka ini, jika orang yang mengucapkan itu bisa selamat dari kekafiran, maka ini termasuk perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka setara dengan ucapan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan itu lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dimurkai Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut, dan dia tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia layak mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” (Ibnu al-Qayyim, Ahkam Ahl al-Dzimmah,69).

Masih ngotot terlbat dalam hari raya orang-orang kafir? WaL-lah a’lam bi al-shawab.

Lihat juga dalam kink:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *